tulisan ini sedikit info agar antar pengguna kendaraan baik motor ataupun mobil agar saling bertoleransi
Oleh Thobieb Al-Asyhar
Dalam salah satu talk show di sebuah radio swasta tentang fenomena sepeda motor yang semakin semrawut, ada salah satu pendengarnya mengirim SMS yang berisi: bagi pengendara motor, disarankan agar membawa empat hal:
(1)bawalah helm untuk melindungi kepala jika terjadi kecelakaan,
(2) bawalah SIM dan STNK agar tidak ditilang,
(3) bawalah jaket dan jas hujan untuk menghindari panas atau dingin, dan
(4) bawalah “otak” jangan sampai ketinggalan di rumah agar tidak celaka dan mencelakai.
Isi SMS tersebut, ada satu hal yang cukup menarik, yaitu pesan nomor (4) tentang pentingnya pengendara motor membawa “otaknya”. Maksud dari sang pengirim SMS tersebut adalah bahwa rata-rata pengendara motor, khususnya di Jakarta,lebih banyak tidak berhati-hati dari pada yang hati-hati, sehingga membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Tentu, SMS tersebut bukan hal yang mengejutkan buat kita. Karena pengendara motor di Jakarta seperti raja jalanan yang dianggap menggantikan predikat bus Metromini sebelumnya.
Menurutpengendara mobil ketika diminta pendapatnya tentang pengendara motor, maka hampir dipastikan mereka berkomentar miring. Dalam beberapa kali kesempatan berbincang dengan sesama pengendara mobil, mereka rata-rata menjawab dengan penilaian yang bersifat simplistis bahwa pengendara motor itu dikatakan tidak berbudaya, tidak memiliki aturan, tidak memiliki pearasaan, ingin menang sendiri, dan seterusnya.
Intinya, bagi pengendara mobil, mayoritas pengendara motor itu minta ”dipahami” oleh pengendara mobil. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa pengendara motor itu rata-rata memiliki karakter yang sama ketika di jalan raya?
Bahkan yang sebelumnya menggunakan berkarakter lembut, namun begitu menjadi pengendara motor aktif karakternya menjadi lebih agresif, galak, bahkan cepat marah, meskipun tidak berlaku bagi semua kasus. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah karena faktor psikologis yang mempengaruhi mentalnya.
Penulis sendiri juga pernah menjadi pengendara motor selama kurang lebih 1 tahun setiap hari, dari rumah ke kantor dengan jarak tempuh 1 jam 15 menit. Menurut pengamatan penulis, secara psikologis, pengendara motor itu menginginkan agar lebih didahulukan daripada mobil. Perasaan merasa benar pengendara motor itu selalu ada, khususnya ketika berhadapan dengan mobil. Rata-rata, dalam alam pikiran pengendara motor
itu menganggap pengendara mobil itu lebih kaya, enak di dalam ada AC dan sebagainya, sehingga mereka harus mengalah dengan motor.
Menurut Sarlito Wirawan dalam bukunnya Psikologi Prasangka orang Indonesia (2007), bahwa prasangka yang dibangun secara terus menurus dapat menimbulkan jalan pintas (heuristic) yang efeknya dapat memicu kasus-kasus sosial, seperti memuncaknya emosi yang tidak terkendali.
Bagi sebagian pengendara motor memiliki prasangka terhadap ”lawannya” (mobil pribadi, bus, truk dll) yang menyebabkan pada sikap jalan pintas yaitu kesimpulan langsung yang tidak didasarkan pada pemikiran atau analisa yang mendalam.
Pengendara motor berprasangka bahwa pengendara mobil itu enak, dingin karena ada AC, secara ekonomi cenderung lebih kaya dan mobil memiliki bodi yang lebih besar sehingga pantas untuk mengalah. Demikian juga bagi pengendara mobil berprasangka bahwa semua pengendara motor itu tidak tertib dan ingin menang
sendiri, sehingga mereka tidak perlu harus dituruti kehendaknya. Akibat dari itu semua, maka terjadilah banyak kecelakaan, dan percekcokan antar mereka.
Muncul pertanyaan, ada berapa persen pengendara motor yang baik? Jika dikalkulasi secara kasar, mungkin pengendara motor yang taat dibawah 10%. Maksudnya, pengendara yang baik adalah pengendara yang taat terhadap lalu lintas dan memiliki sopan santun dalam berkendara. Sopan santun berkendara itu meliputi
menghormati pengguna jalan raya lain, tidak merasa menang sendiri, bersikap legowo terhadap kondisi dan tidak cepat emosi. Sedangkan selebihnya, sekitar 90% pengendara motor itu tidak taat rambu lalu lintas seperti menerjang lampu merah, mengendarai seenaknya seperti naik trotoar, main potong jalan meskipun sempit, lebih cepat emosi jika jalannya terganggu (meski posisi salah) dan merasa ingin menang sendiri.
Akibat dari itu semua, kecelakaan di jalan raya tidak dapat dihindari hingga mencapai 70% yang diduga melibatkan motor. Ada sebuah cerita yang membuat bulu kuduk kita merinding. Cerita ini dari abang taksi yang kebetulan penulis mintai tanggapan tentang fenomena motor yang semrawut. Menurutnya, dia pernah dihina, diejek, dan dibentak oleh seorang pengendara motor di perempatan lampu merah.
Intinya motor minta jalan, sementara posisi mepet sekali,sehingga abang taksi terpaksa tidak menggubris
permintaannya. Karena taksi dianggap tidak memberi jalan, maka sang pengendara motor mencaci maki sambil menggedor-gedor body mobil taksi. Sebenarnya, si abang taksi sangat jengkel dan ingin melawan, tetapi karena kondisi tidak memungkinkan, maka dia lebih memilih menyimpan kejengkelan itu. Namun begitu lampu merah menyala hijau, si abang taksi menyimpan dendam dengan mengejar pengendara motor yang dinilai berlebihan. Sesampainya di jalan yang sepi dan dirasakan aman, si abang taksi kemudian menabrakkan mobilnya ke pengendara motor hingga si pengendara motor tersungkur.
Oleh karena itu, pesan SMS di atas menjadi sangat relevan agar pengendara motor lebih hati-hati, gunakanlah akal, pikiran, perasaan dan hati agar perjalanan aman dan tidak terjadi kecelakaan, baik diri sendiri maupun berakibat pada orang lain. Tentu ini juga berlaku bagi pengendara mobil untuk tidak mudah berprasangka dengan tetap menghargai pengendara motor. Karena motor itu sangat ringkih, menabrak jatuh,
ditabrak jatuh, menyenggol jatuh, disenggol jatuh, bahkan mengerem agak mendadak sekalipun juga bisa jatuh. Sehingga terdapat kesimpulan simplistis bahwa mengendari motor itu seperti menyerahkan lebih dari 50% nyawanya kepada jalan raya.
Tapi sifat tidak mau mengalah dari si pengendara motor tersebut bukan hanya pada pengguna kendaraan lainnya yaitu mobil namun juga berimbas pada pejalan kaki. Entah mengapa mereka merasa berhak juga menggunakan trotoar dan jembatan penyebrangan sebagai jalur mereka dan sulit sekali mereka untuk memberhentikan kendaraannya memberi kesempatan bagi pejalan kaki yang sedang menyebrang jalan (sering banged nih, mungkin mereka lupa caranya nge-rem kali yah?). Sebel banged dengan hal ini, duh kalian ini kan manusia bukan hewan masa susah sekali sih ngikutin aturan. Jalan motor atau mobil yah di jalan raya bukan trotoar dan jembatan penyebrangan.
Salah satu yang mengakibatkan pengendara motor tidak bisa diatur yang mungkin lupa ditulis dalam artikel diatas yaitu kesempatan untuk membeli motor baru sangatlah mudah layaknya membeli kacang rebus dengan dp (down payment) yang minim sudah dapat membawa pulang motor kreditan, sedangkan si pembeli tersebut kemungkinan dapat mengendarai motor mungkin cukup minim. Sehingga apalagi mematuhi aturan berlalu lintas cara mereka mengendarai motor saja hanya les singkat yang penting motor bisa distarter dan bisa dijalankan maka dengan seenaknya saja mereka berlalu di jalan.
Dan lihat saja kenyataannya sekarang, motor sudah bak laron wara-wiri di jalan raya. Saran dari saya sih meminta agar pembelian motor jangan terlalu mudah paling tidak si pembeli harus sudah mempunyai SIM terlebih dahulu dan ada test kembali saat pemesanan motor. Kalau memungkinkan si agen penjualan motor tidak akan memberikan motornya kalau si pembeli belum lulus test mengendarai motor secara baik yang dilakukan oleh pihak agen. Tolonglah sudah banyak korban jiwa baik yang meninggal dunia, luka berat, luka ringan maupun luka hati alias dendam kesumat baik dari pengendara motor, mobil dan pejalan kaki.
Mari mencoba jadi lebih baik untuk kepentingan bersama…amin!




