erika mirna

23 Oct, 2008

Bandung Undercover

Posted by: admin In: Just Speak Up

Apa sih yang engga ada di Bandung, katanya.
Apa sih yang engga enak di Bandung, katanya.
Apa sih yang engga cihuy di Bandung, katanya.
Apa sih yang engga murah di Bandung, katanya.
Yah pastinya Bandung segala ada segala punya segala enak…segala-segala…

Tapi, ungkapan itu hanya tuk beberapa bulan ketika menjadi penghuni baru kota Bandung.
Hijrah dari kota besar Jakarta ke Bandung dikarenakan suami ingin berjihad  memiliki sebuah studio desain sendiri dengan teman sejawatnya setelah beberapa bulan menjadi seorang freelancer di dunia maya dan menurutnya Bandung merupakan persinggahan pertama untuk proyek nomaden kami.

Alasan yang mendasari Bandung sebagai kota hijrah karena udaranya yang sejuk dan banyaknya orang kreatif bermukim disana. Untuk alasan pertama sepertinya udara sejuk di kota Bandung sudah memudar entah memang musim sedang kemarau atau alasan global warming menyertainya, entahlah. Tapi dua hingga empat bulan awal-awal di Bandung tidur pastinya harus beralas selimut namun sekarang selimut masih dipakai sebatas penyempil tuk perutku yang mulai membuncit. Sudah sekitar delapan bulan kami menetap di Bandung sejak Desember 2007.

Namun hingga sekarang masih banyak hal yang baru ketemui disini, terutama dalam hal bahasa. Hal cukup menggelikan berawal dari semangkok mie.

Ceritanya begini:
Masuk pukul 12.00 WIB sudah saatnya bersantap di siang hari, kebetulan melihat salah seorang teman kantor sedang melahap semangkok mie ayam. Dengan segara kuputuskan untuk ikut makan mie ayam, celingak-celinguk keluar pintu nyari si tukang mie. Eh ketemu, dia ada di depan masjid depan kantor.
‘Bang mie ayam yah?” bertanya lugulah diriku.
Si Abang menjawab santai “Bukan neng, mie baso. Kalau ayam ga ada bahannya”
Mendengar jawaban itu yang ada dipikiranku si Abang jualan bakso, tapi kalau lihat bahan-bahan yang dipajang dan racikan yang sedang dibikin kayanya dia jualan mie ayam maka dengan cuek saya bertanya kembali.
“Abang bukan jualan mie ayam yah…?”
“Bukan neng, ga ada bahan ayamnya. Adanya baso, tahu, somay ama ceker” Si Abang agak gemes juga jawabnya.
Saya makin keheranan maka saya ganti pertanyaaannya.
“Teman saya yang didalam belinya disini bukan?”
“Ooh eneng yang satunya yah…iya neng…”
“Dia pesen apa?”
“Mie baso…”
“Oooh ya udah saya pesen itu aja deh bang…” berhubung laper nyerah juga deh gw.
Ketika melihat tampilan yang dibuat si Abang baru saya mengerti kenapa dia bilang bukan mie ayam karena memang tidak ada serpihan ayamnya, tapi memang serupa dengan mie ayam tapi tanpa si ayam tadi jadi bukan jualan bakso.

Jadi pelajaran dari cerita itu

1. Mie bakso atau ceker itu penyajiannya sama dengan mie ayam, minus si ayam. Tapi agak hati-hati untuk membeli mie ayam pinggir jalan di Bandung karena rasanya gak sama seperti mie ayam sekolahan yang ada di Jakarta. Beda banged.
2. Kalau ada tulisan baso taho, anda tidak akan meliat bakso disana. Namun dia berjualan Somay. BAKSO TAHU = SOMAY.
3. Kalau bakso tahu goreng itu berarti BATAGOR. Dan biasanya akan ditanya kering atau kuah, hal ini gak berbeda jauh hanya saja kalau kuah yah lebih banyak kuahnya
3. Kalau ditanya pake PEDES itu berarti pake Cabe ga? Dan cabe rawit disini dibilangnya CENGE’K.
4. Disini tidak akan ditemui yang namanya GADO-GADO namun LOTEK, rupa dan rasa hampir sama dengan gado-gado.
5. Bandung pun tidak ada yang namanya KETOPRAK (bukan ketoprak humor loh). Ketoprak adalah makanan khas Jakarta berisi bihun, toge, tahu, ketupat, dan kerupuk yang disiram bumbu kacang beserta ulekan bawang putih, gula jawa dan jumlah cabe yang diinginkan serta sedikit kecap. Yang ada di bandung itu kupat petis, bahan hampir serupa bihun, toge, tahu dan ketupat namun disiram bumbu petis (kuah dari udang sedikit lebih bau dari terasi).
6. Kalau nemuin ketupat kari, bersiap-siap tidak kenyang. Karena isinya hanya ketupat dengan koyor (lemak gaji) yang hanya beberapa potong kecil namun sebenarnya kuah karinya lumanya enak.
7. Ada namanya Bakso Cuanki, nah yang ini ada dua versi. Bakso cuanki pada dasarnya bakso ikan namun kalau jualan yang dipikul di jalan-jalan itu pakai indomie namun kalau di warung bakso isinya bakso, somay, tahu dan kerupuk batagor. Nah dekat kantor ada bakso cuanki di jalan Bengawan atau Serayu, rasanya maknyus.
8. Gorengan disini sedikit bervariasi ada gorengan isi nanas, nangka dan kadang ketan itan. Gorengan terenak di Bandung juga ada di dekat kantor yaitu di Jl. Cendana – Taman Pramuka.

Udah aah segitu dulu…kudu diingat-ingat dulu…ehehehehe….

8 Responses to "Bandung Undercover"

1 | ciwir

October 23rd, 2008 at 9:41 pm

Avatar

dan bandung pernah punya sampah yang menggunung dijalan-jalan … heheheh :D

2 | erika

October 24th, 2008 at 6:05 pm

Avatar

tuk ciwir:
iya betul tul…untung belum pindah kesini waktu perkara itu terjadi…kayanya sampah problem semua ibukota…

3 | zaM

October 29th, 2008 at 8:09 am

Avatar

Hijrah dari kota besar Jakarta ke Bandung dikarenakan suami ingin berjihad memiliki sebuah studio desain sendiri dengan teman sejawatnya setelah beberapa bulan menjadi seorang freelancer di dunia maya dan menurutnya Bandung merupakan persinggahan pertama untuk proyek nomaden kami.

Semoga istiqomah, lancar rejekinya, dan selalu mendapat Ridho-Nya.
btw, proyek nomaden? jadi masih ada rencana pindah yah….

4 | F @ Bloggingly

October 29th, 2008 at 9:51 am

Avatar

Ahaha, memang masalah bahasa di bandung itu agak2 lucu bu. tapi tenang saja, orang bandung relatif ramah – ramah kok. :D

panas? iya nih. beberapa akhir ini memang cuaca di bandung makin panas saja. Tapi seiring dengan seringnya hujan turun, mulai dingin lagi kok bu.

Ngomong2, design suami anda mantap sekali. pertama kali saya lihat ke blognya icreativelabs, sampai menganga saya. Designnya keren banget! titip salam untuk beliau y :D

5 | admin

October 29th, 2008 at 3:42 pm

Avatar

tuk zam:
amin…semoga gaji lancar terus zam…hahaha
iya, rencana sih perlima-sepuluh tahun sekali kita mau pindah dari kota satu ke lainnya…next stop sih pengennya yogya…tapi ga tau kapan terealisasinya…

tuk F@bloggingly:
memang sih urang bandung lebih bersahabat dibanding Jakarta, sampe2 gw dan anggi pernah buat becandaan begini. orang bandung ramah-ramah, jambret aja pasti kan ngomong gini “neng…nuhun neng…boleh nge-jambret neng…” hahahaha…

wah, ke Ge-er an tuh orangnya fikri…hahaaha…

6 | F @ Bloggingly

October 30th, 2008 at 5:40 pm

Avatar

Wah, kalau jambret saja sampai seperti itu, bandung akan jadi tempat paling nyaman untuk ditinggali y. ahaha.

Ge er? well, kenyataannya memang desain icreativelabs keren sih :D

7 | iyra

November 25th, 2008 at 7:12 am

Avatar

satu lagi Ka..klo ditanya “lada nteuk?” maksudnya pake cabe apa ga..lada di bandung bukan buat merica tapi buat cabe..

somay…bukan siomay ya?

8 | ihsan

March 17th, 2009 at 5:23 pm

Avatar

hehe … saya waktu itu pernah ceritain ke istri, kalo anggi sama rika tinggal dibandung katanya enak …. kapan-kapan kita mo maen ke bandung, nanti jadi tur guide kita ya hihi :) salam buat anggi sama dede azmi … dari om ihsan :)

Comment Form